November 2010 | Dhita Prianthara Blog November 2010 | Dhita Prianthara Blog| software | games | download | PS1 | Free

29 November 2010

Cara Membuat Efek Hujan Daun berjatuhan, berguguran pada Blog

Daun Yang ini Bukan Daun Beneran Lho Bagi Blogger yang senang dengan kreasi dan ingin memasang Efek daun berjatuhan dari atas caranya sangat mudah dan simple. Hanya memerlukan coppy paste kode di bawah ini dan taruh di edit Html, selesai.Seperti biasa :
1. Log in ke Blog,
2. Klik menu Template,
3. Klik menu Edit Html,
4. Cari kode < / head >,
5. Coppy kode di bawah ini dan pastekan persis dibawah kode < / head >


<script src='http://arti.master.irhamna.googlepages.com/daun.js'/>

6. Lihat Pratinju--->bagaimana?--->bisa?--->

Kalau belum bisa, Pakai aja cara ke 2:
1. Masuk ke Blog
2. Klik Tab Tata Letak
3. Klik Tab Elemen Halaman
4. Klik Tambah Gadget
5. Klik pilihan HTML/JavaScript
6. Pastekan salah satu script di bawah ini ke kolom Konten


Efek daun berguguran, dengan jumlah 20 buah daun kering

<script src="http://h1.ripway.com/pinginbelajar/daunberguguran/20.js" type="text/javascript"></script>

Efek daun berguguran, dengan jumlah 30 buah daun kering

<script src="http://h1.ripway.com/pinginbelajar/daunberguguran/30.js" type="text/javascript"></script>

Efek bintang berjatuhan, dengan jumlah 20 buah bintang

<script src="http://h1.ripway.com/pinginbelajar/bintangberjatuhan/20.js" type="text/javascript"></script>

Efek bintang berjatuhan, dengan jumlah 30 buah bintang

<script src="http://h1.ripway.com/pinginbelajar/bintangberjatuhan/30.js" type="text/javascript"></script>

7. Klik Simpan
8. Selesai
READ MORE - Cara Membuat Efek Hujan Daun berjatuhan, berguguran pada Blog

Membuat Burung Terbang di Blog

Hello semua,,,kali ini saya akan berbagi script memasang burung terbang di blog anda seperti contoh blog saya Klik disini, nah bila sobat berminat silahkan ikuti trik berikut :
  1. Login ke blog sobat
  2. Ke tata letak
  3. Ke edit html
  4. Copy pastekan kode dibawah dan letakkan di atas kode </body>
Nie dia Sciptnya,,,,,,
Untuk Menampilkan burung di pojok kiri atas blog:
<script language='JavaScript' src='http://oridmail.googlepages.com/oRiDscript.js' type='text/javascript'/><script language='JavaScript' type='text/javascript'>eXl1lXc('http://i584.photobucket.com/albums/ss285/vanesalu/flying_bird.gif','top','0px','left','0px','123455','150','150','transparent','ffffff');</script>

Untuk Menampilkan burung di pojok kanan atas:
<script language='JavaScript' src='http://oridmail.googlepages.com/oRiDscript.js' type='text/javascript'/><script language='JavaScript' type='text/javascript'>eXl1lXc('http://i584.photobucket.com/albums/ss285/vanesalu/flying_bird.gif','top','0px','right','0px','123456','150','150','transparent','ffffff');</script>
  • Selamat Mencoba,,,,
READ MORE - Membuat Burung Terbang di Blog

Membuat Menu Melayang Pada Blogger

Berbagai macam cara dilakukan para blogger untuk menghemat ruang blognya salah satunya dengan Kotak blogroll, Namun tips kali ini untuk menghemat halaman kita akan membuat menu melayang. menu ini dapat sobat tampilkan di bagian kiri maupun di bagian kanan blog, sobat tinggal memilih mana yang lebih cocok untuk blog kesayangan sobat.
Bagi sobat yang ingin menampilkan menu melayang ikuti panduan dibawah ini!

1. Masuk ke Blogger dengan ID.
2. Pilih Design (Rancangn) ---> Edit HTML.
3. Back up template dulu, untuk antisipasi kalau gagal.
4. Cari kode ini : </head> pada template anda.
5. Copy Seluruh script dibawah ini, kemudian paste tepat diatas </head>

<script src='http://elmubarok.googlecode.com/files/floating1.js' type='text/javascript'/>
<script>
YOffset=150;
XOffset=0;
staticYOffset=30;
slideSpeed=20
waitTime=100;
menuBGColor=&quot;red&quot;;
menuIsStatic=&quot;yes&quot;;
menuWidth=150;
menuCols=2;
hdrFontFamily=&quot;verdana&quot;;
hdrFontSize=&quot;2&quot;;
hdrFontColor=&quot;black&quot;;
hdrBGColor=&quot;#FF0000&quot;;
hdrAlign=&quot;left&quot;;
hdrVAlign=&quot;center&quot;;
hdrHeight=&quot;15&quot;;
linkFontFamily=&quot;Verdana&quot;;
linkFontSize=&quot;2&quot;;
linkBGColor=&quot;white&quot;;
linkOverBGColor=&quot;#FFFF99&quot;;
linkTarget=&quot;_top&quot;;
linkAlign=&quot;Left&quot;;
barBGColor=&quot;red&quot;;
barFontFamily=&quot;Verdana&quot;;
barFontSize=&quot;2&quot;;
barFontColor=&quot;white&quot;;
barVAlign=&quot;center&quot;;
barWidth=20; // no quotes!!
barText=&quot;WELCOME&quot;;


// ----- Mulai Edit Menu
ssmItems[0]=[&quot;My Menu&quot;] //Header Menu
ssmItems[1]=[&quot;Home&quot;, &quot;/&quot;, &quot;&quot;]
ssmItems[2]=[&quot;About Me&quot;, &quot;http://www.dhitaprianthara.blogspot.com/2010/10/about-me.html&quot;,&quot;&quot;]
ssmItems[3]=[&quot;Blog Tutorial&quot;, &quot;http://www.dhitaprianthara.blogspot.com/search/label/Blog%20Tuturial&quot;,&quot;&quot;]
ssmItems[4]=[&quot;Tips FaceBook&quot;, &quot;http://www.dhitaprianthara.blogspot.com/search/label/Tips%20Facebook&quot;,&quot;&quot;]
ssmItems[5]=[&quot;Tips Komputer&quot;, &quot;http://www.dhitaprianthara.blogspot.com/search/label/Tips%20Komputer&quot;, &quot;_new&quot;]
ssmItems[6]=[&quot;Free Antivirus&quot;, &quot;http://www.dhitaprianthara.blogspot.com/2010/10/free-antivirus.html&quot;, &quot;&quot;]
ssmItems[7]=[&quot;SEO&quot;, &quot;http://www.dhitaprianthara.blogspot.com/search/label/Tips%20SEO&quot;, &quot;&quot;]

buildMenu();
//----- Selesai Edit Menu
</script>

  • silahkan rubah WELCOME dengan tulisan apa saja yang cocok dengan kehendak sobat
  • kode yang berwarna biru wajib sobat ganti dengan alamat-alamat punya sobat. 
  • MY MENU boleh kita ganti dengan MENUKU, DAFTAR MENU dll.
  • masih banyak lagi yang bisa sobat utak-atik.
  • terakhir simpan. semoga berhasil
READ MORE - Membuat Menu Melayang Pada Blogger

21 November 2010

STIGMA DAN DISKRIMINASI TERHADAP ODHA

ODHA atau orang dengan HIV/AIDS merupakan orang yang menderita HIV/AIDS yang secara fisik sama dengan kita yang tidak menderita HIV/AIDS. Mereka pada umumnya memiliki ciri-ciri yang sama seperti orang yang sehat sehingga tidak  dapat diketahui apakah seseorang itu menderita HIV/AIDS atau tidak.
Stigma berhubungan dengan kekuasaan dan dominasi di masyarakat. Pada puncaknya, stigma akan menciptakan ketidaksetaraan sosial. Stigma berurat akar di dalam struktur masyarakat, dan juga dalam norma-norma dan nilai-nilai yang mengatur kehidupan sehari-hari. Ini menyebabkan beberapa kelompok menjadi kurang dihargai dan merasa malu, sedangkan kelompok lainnya merasa superior.
Diskriminasi terjadi ketika pandangan-pandangan negatif mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan seseorang secara tidak adil yang didasarkan pada prasangka mereka akan status HIV seseorang. Contoh-contoh diskriminasi meliputi para staf rumah sakit yang menolak memberikan pelayanan kesehatan kepada Odha, atasan yang memberhentikan pegawainya berdasarkan status atau prasangka akan status HIV mereka, atau keluarga/masyarakat yang menolak mereka yang hidup atau divonis hidup dengan HIV/AIDS. Tindakan diskriminasi semacam itu adalah sebuah bentuk pelanggaran hak asasi manusia.
Stigma dan diskriminasi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Terjadi di tengah keluarga, masyarakat, sekolah, tempat peribadatan, tempat kerja, juga tempat layanan hukum dan kesehatan. Orang bisa melakukan diskriminasi baik dalam kapasitas pribadi maupun profesional, sementara  lembaga bisa melakukan diskriminasi melalui kebijakan dan kegiatan mereka.

Selama ini, ODHA memang selalu dikaitkan dengan diskriminasi dan stigma buruk. Stigma beroperasi layaknya penjara. Bukan penjara dalam pengertian fisik yang mengurung narapidana, melainkan penjara dalam relasi sosial.
Di lingkungan masyarakat kita, stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV&AIDS (ODHA) masih banyak terjadi. Contohnya adalah keluarga yang tega mengusir anaknya karena menganggapnya sebagai aib, rumah sakit dan tenaga kesehatan yang menolak untuk menerima ODHA di tempatnya atau menempatkan ODHA di kamar tersendiri karena takut tertular. Ada pula aksi ekstrim masyarakat yang mengkarantina ODHA karena menganggap bahwa HIV&AIDS adalah penyakit kutukan atau hukuman Tuhan bagi orang yang berbuat dosa.
Semua stigma dan diskriminasi ini muncul karena minimnya pengetahuan dan kepedulian kita terhadap HIV&AIDS. Padahal HIV&AIDS kini telah mengancam semua orang, termasuk ibu-ibu rumah tangga maupun bayi-bayi tanpa dosa yang baru lahir.
Bentuk lain dari stigma berkembang melalui internalisasi oleh Odha dengan persepsi negatif tentang diri mereka sendiri. Stigma dan diskriminasi yang dihubungkan dengan penyakit menimbulkan efek psikologi yang berat tentang bagaimana Odha melihat diri mereka sendiri. Hal ini bisa mendorong, dalam beberapa kasus, terjadinya depresi, kurangnya penghargaan diri, dan keputusasaan. Stigma dan diskriminasi juga menghambat upaya pencegahan dengan membuat orang takut untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi atau tidak.
Telah begitu banyak stigma dan perlakuan diskriminatif yang ditujukan kepada ODHA. Perlakukan diskriminatif adalah perlakuan tak sama yang diberikan kepada pihak tertentu. Perlakuan diskriminatif terhadap ODHA bisa dari keluarga sendiri, teman dan kerabat, masyarakat sekitar, ataupun pemerintah. Contoh perlakuan diskriminatif yang sering terjadi adalah pengucilan, seperti membedakan perangkat makan di dalam rumah, menjauhi dalam komunitas sosial, tidak memberikan akses yang sama kepada ODHA oleh pemerintah di mana ada rumah sakit yang menolak memeriksa ODHA karena alasan ketidaklengkapan alat pemeriksaan yang menunjang.
Sebagai ODHA, kurangnya dukungan dari lingkungan (dukungan material, informasional, emosional, sosial, atau spiritual) akan membuat kualitas hidup mereka memburuk. Jangankan ODHA, kita yang bukan ODHA saja senantiasa membutuhkan dukungan-dukungan tersebut dari lingkungan. ODHA yang mendapatkan stigma dan diskriminasi di masyarakat tidak akan dapat bergaul, bekerja, dan menjalani hidupnya dengan baik.
Putus asa, depresi, keinginan untuk bunuh diri atau merusak dirinya sendiri dapat menjadi masalah serius. Ini bukan hanya menimpa ODHA, namun juga dapat mempengaruhi keluarga ODHA ataupun orang-orang terdekatnya. Stigma dan diskriminasi membuat ODHA maupun keluarganya merasa takut atau malu untuk mengakui dan mencari bantuan. Mereka tidak mau pergi ke rumah sakit atau mencari informasi lebih lanjut
Kurangnya pemahaman tentang HIV/AIDS mengakibatkan orang yang menderita penyakit ini sering sekali di kucilkan atau sering mendapatkan diskriminasi dari lingkungannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa HIV/AIDS membawa dampak yang cukup signifikan bagi ODHA itu sendiri. Trauma, sikap membisu, suka menghindar, tidak Percaya Diri, merasa jelek, terhina, dan sebagainya adalah beberapa contoh dari apa yang ODHA rasakan.
Kurangnya pahamnya masyarakat tentang HIV/AIDS merupakan salah satu faktor yang menyebabkan diskriminasi terhadap ODHA. Masyarakat hanya mengetahui HIV/AIDS itu merupakan sebatas penyakit  menular dan penderitanya berbahaya. Akan tetapi sebagian besar masyarakat masih belum memahami secara benar faktor penyebaran dan cara penanggulangannya. Adanya ketidakpahaman ini menyebabkan timbulnya sikap over protective terhadap ODHA, seperti diskriminasi dengan tidak mau bergaul dengan ODHA dan stigma bahwa penderita HIV harus dihindari.
Beban penderitaan yang ditanggung ODHA tidaklah ringan. Bukan sekadar penderitaan dari beban penyakit yang menggerogoti tubuh mereka. Perlakuan diskriminatif, justru menimbulkan penderitaan psikologis yang lebih menusuk batin mereka.
Oleh karena itu, idealnya kita tidak mengisolasi ODHA, tetapi harus menyayangi mereka seperti halnya kita menyayangi orang lain pada umumnya. Namun tak dapat dimungkiri, bahwa kebanyakan masyarakat kita masih memiliki stigma negatif terhadap ODHA. Stigma tersebut biasanya berupa sikap dan perlakuan diskriminatif yang ditujukan kepada ODHA.
Mulai dari beragam pencitraan negatif dan hujatan, tidak diterima bekerja di instansi mana pun bila seseorang diketahui sebagai ODHA, terancam dikucilkan dari teman, keluarga dan masyarakat, desakan agar ODHA dikarantina, hingga ancaman fisik seperti diusir dan disingkirkan dari tempat tinggalnya.
Padahal, dengan menghujat, mengisolasi dan atau mengasingkan ODHA, maka secara tak langsung kita memberi beban ganda (double burden) pada mereka. Artinya, di satu sisi, secara fisik mereka kian rapuh, lemah, dan sulit berbuat. Sementara di sisi lain ODHA harus menanggung beban psikologis yang amat berat akibat beragam serangan sosial dan mental dengan adanya isolasi, stigmatisasi-pencitraan negatif, diskriminasi, cacian, cibiran, dan lain sebagainya.
Bahkan, tak jarang penderita HIV/AIDS dicap sebagai orang yang kotor karena telah melanggar aturan, tidak taat beragama, orang-orang yang "dikutuk" Tuhan dan pendapat lainnya yang relatif sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Bagi mereka yang masih berpikiran sempit dalam memandang ODHA, sudah saatnyalah kini kejernihan pikiran kembali dibuka. Jangan lagi ada pandangan penularan HIV/AIDS dikaitkan dengan kebobrokan moral, dan perilaku sosial, seperti seks bebas, penggunaan narkoba, dan berbagai bentuk kemaksiatan lainnya.
Buang jauh-jauh prasangka buruk terhadap ODHA yang barangkali tidak seberuntung mereka yang negatif HIV. Karena prasangka buruk akan melahirkan konflik dan ketidakadilan. Dengan kata lain, cara pandang dan ekspresi salah tidak hanya melahirkan hal negatif bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi sesama manusia lainnya.
Seharusnya, ODHA memang harus diperlakukan selayaknya masyarakat umum. Mereka juga manusia biasa yang tentunya ingin hidup wajar dalam pergaulan dan tidak ada diskriminasi karena masyarakat ketakutan tertular HIV.
Kini, sudah saatnya kita mengubah paradigma salah kaprah yang telah lama berkembang di tengah masyarakat bahwa ODHA adalah "orang kotor", berbahaya, hingga harus dijauhi. Kita memang harus selalu waspada dan memiliki ketakutan akan tertular HIV/AIDS. Namun, bukan berarti kita lalu membenarkan adanya perlakuan diskriminasi dan stigmatisasi yang berlebihan terhadap ODHA.
Realitas HIV/AIDS senyatanya telah mewajibkan kita untuk mau membuka mata, telinga, dan tangan kita terhadap para penderitanya dengan cara memberikan simpati, rasa solidaritas, motivasi serta dukungan nyata baik moral maupun material agar mereka tetap tegar, tetap bisa tegak melangkah, dan selalu optimis dalam menjalani hidup.

READ MORE - STIGMA DAN DISKRIMINASI TERHADAP ODHA

Kanker ( Cancer )

I. Pendahuluan

Kanker bukanlah suatu penyakit yang ringan. Langkah awal dalam pengobatan kanker adalah deteksi dengan benar bahwa gejala yang muncul pada tubuh pasien adalah benar-benar sel kanker ganas. Deteksi ini bisa dilakukan dengan pemeriksaan biopsy, sehingga langkah pengobatan bisa dilakukan secara cepat dan tepat. Langkah berikutnya adalah terapi pengobatan dengan cara konvensional. Namun pada kenyataannya pengobatan dengan cara ini sering kali kanker belum bisa diatasi secara total. Disinilah peran tanaman obat/herbal.

Peran utama herbal adalah meningkatkan daya tahan tubuh pasien dan melokalisir sel-sel kaker sehingga sel-sel kanker tidak mudah menyebar, dan lebih mudah diangkat, juga tidak bersifat toksik sehingga lebih aman untuk tubuh pasien. Contohnya adalah tanaman obat dari ekstrak keladi tikus (Typhonium Flagelliforme). Dalam penggunaannya, tanaman obat ini bisa dipakai bersamaan dengan pengobatan konvensional (pembedahan, kemoterapi, radioterapi dan hormonterapi) atau setelah pengobatan konvensional selesai dilakukan. Karena obat dari ekstrak keladi tikus dapat membantu mengurangi efek pengobatan secara konvensional.

Jumlah penderita kanker di Indonesia belum diketahui secara pasti, tetapi peningkatan dari tahun ke tahun dapat dibuktikan sebagai salah satu penyebab kematian. Hanya beberapa kanker yang dapat diobati secara memuaskan, terutama jika diobati saat masih stadium dini. Keberhasilan pengobatan sangat ditentukan oleh jenis kanker, stadium kanker, keadaan umum penderita, dan usaha penderita untuk sembuh.

Definisi Kanker

Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus membelah diri, selanjutnya menyusup ke jaringan sekitarnya (invasive) dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ penting serta syaraf tulang belakang. Dalam keadaan normal, sel hanya akan membelah diri jika ada penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Sebaliknya sel kanker akan membelah terus meskipun tubuh tidak memerlukannya, sehingga akan terjadi penumpukan sel baru yang disebut tumor ganas. Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan normal, sehingga mengganggu organ yang ditempatinya. Kanker dapat terjadi diberbagai jaringan dalam berbagai organ di setiap tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Bila kanker terjadi di bagian permukaan tubuh, akan mudah diketahui dan diobati. Namun bila terjadi didalam tubuh, kanker itu akan sulit diketahui dan kadang - kadang tidak memiliki gejala. Kalaupun timbul gejala, biasanya sudah stadium lanjut sehingga sulit diobati.

Perbedaan Tumor dan Kanker

Tumor ada dua macam yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak hanya tumbuh dan membesar, tidak terlalu berbahaya, dan tidak menyebar ke luar jaringan. Sedangkan tumor ganas adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali dan merusak jaringan lainnya. 



II. Jenis - jenis kanker yang telah dikenal saat ini yaitu :

- Karsinoma
Yaitu jenis kanker yang berasal dari sel yang melapisi permukaan tubuh atau permukaan saluran tubuh, misalnya jaringan seperti sel kulit, testis, ovarium, kelenjar mucus, sel melanin, payudara, leher rahim, kolon, rectum, lambung, pancreas, dan esofagus.

- Limfoma
Yaitu jenis kanker yang berasal dari jaringan yang membentuk darah, misalnya jaringan limfe, lacteal, limfa, berbagai kelenjar limfe, timus, dan sumsum tulang. Limfoma spesifik antara lain adalah penyakit Hodgkin (kanker kelenjar limfe dan limfa)

- Leukemia
Kanker jenis ini tidak membentuk massa tumor, tetapi memenuhi pembuluh darah dan mengganggu fungsi sel darah normal.

- Sarkoma
Yaitu jenis kanker dimana jaringan penunjang yang berada dipermukaan tubuh seperti jaringan ikat, termasuk sel - sel yang ditemukan diotot dan tulang.

- Glioma
Yaitu kanker susunan syaraf, misalnya sel-sel glia (jaringan penunjang) di susunan saraf pusat.

- Karsinoma in situ
Yaitu istilah yang digunakan untuk menjelaskan sel epitel abnormal yang masih terbatas di daerah tertentu sehingga masih dianggap lesi prainvasif (kelainan/luka yang belum memyebar)
READ MORE - Kanker ( Cancer )

18 November 2010

Merubah Tampilan Blog (mengganti template)

Tampilan blog bawaan blogger sangat sederhana sekali dan tentunya kurang memanjakan pandangan kita dan pengunjung blog. Agar blog tampil cantik, menarik dan serba indah dipandang mata, kita harus merubah template blog dengan mengikuti langkah-langkah dibawah ini.
Sebelumnya siapkan dulu template atau rumah baut blog kesayangan sobat dengan cara membuka alamat www.btemplates.com. kemudian download template yang sesuai dengan blog sobat. Bisanya hasil download merupakan type file winRAR, maka extract dahulu file hasil download tersebut sehingga typenya menjadi XML Document dan akan terlihat seperti gambar di bawah ini.
undefined
Langkah selanjutnya adalah mengunggah template yang telah diextract ke blog
  1. Login blogger.com dengan mengisikan e-mail dan password 
  2. Klik Design (rancangan)
  3. Klik Edit HTML
  4. ceklis "Expand Template Widget" 
  5. Klik Browsedn cari template yang diextract tadi
  6. Lalu Klik Unggah, dan tunggu beberapa saat untuk proses
  7. Klik Komfirmasi dan Simpan. selesai
Tambahan : selain situs diatas masih banyak situs-situs penyedia template gratis diantaranya ;
http://www.zoomtemplate.com
http://blogtemplate4u.com
http://www.finalsense.com
http://www.blogspottemplate.com/
http://www.geckoandfly.com
freshbloggertemplates.blogspot.com/
http://www.gosublogger.com/
http://www.giselejaquenod.com
http://template-unik.blogspot.com/
http://www.suckmylolly.com/
http://k2modify.blogspot.com/
http://www.blogcrowds.com
http://webbietips.blogspot.com
READ MORE - Merubah Tampilan Blog (mengganti template)

17 November 2010

Lawanlah Stigma dan Diskriminasi Untuk Memenangi Perang Melawan HIV/AIDS!

Stigma dan diskriminasi, dibawah slogan "Live and Let Live" (Hidup dan Tetap Tegar), telah ditetapkan menjadi tema Kampanye AIDS Dunia di tahun 2002-2003.
Kampanye AIDS Dunia selalu memberikan isu khusus tentang upaya pencegahan dan perawatan pada waktu-waktu tertentu; serta memberikan arahan dalam mengadakan berbagai acara pada Hari AIDS se-Dunia tanggal 1 Desember setiap tahun.

Kenapa Stigma dan Diskriminasi?
Stigma sering kali menyebabkan terjadinya diskriminasi dan -pada gilirannya- akan mendorong munculnya pelanggaran HAM bagi Odha dan keluarganya. Stigma dan diskriminasi memperparah epidemi HIV/AIDS. Mereka menghambat usaha pencegahan dan perawatan dengan memelihara kebisuan dan penyangkalan tentang HIV/AIDS seperti juga mendorong keterpinggiran Odha dan mereka yang rentan terhadap infeksi HIV. Mengingat HIV/AIDS sering diasosiasikan dengan seks, penggunaan narkoba dan kematian, banyak orang yang tidak peduli, tidak menerima, dan takut terhadap penyakit ini di hampir seluruh lapisan masyarakat.
Stigma berhubungan dengan kekuasaan dan dominasi di masyarakat. Pada puncaknya, stigma akan menciptakan, dan ini didukung oleh, ketidaksetaraan sosial. Stigma berurat akar di dalam struktur masyarakat, dan juga dalam norma-norma dan nilai-nilai yang mengatur kehidupan sehari-hari. Ini menyebabkan beberapa kelompok menjadi kurang dihargai dan merasa malu, sedangkan kelompok lainnya merasa superior.
Diskriminasi terjadi ketika pandangan-pandangan negatif mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan seseorang secara tidak adil yang didasarkan pada prasangka mereka akan status HIV seseorang. Contoh-contoh diskriminasi meliputi para staf rumah sakit atau penjara yang menolak memberikan pelayanan kesehatan kepada Odha; atasan yang memberhentikan pegawainya berdasarkan status atau prasangka akan status HIV mereka; atau keluarga/masyarakat yang menolak mereka yang hidup, atau dipercayai hidup, dengan HIV/AIDS. Tindakan diskriminasi semacam itu adalah sebuah bentuk pelanggaran hak asasi manusia.
Stigma dan diskriminasi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Terjadi di tengah keluarga, masyarakat, sekolah, tempat peribadatan, tempat kerja, juga tempat layanan hukum dan kesehatan. Orang bisa melakukan diskriminasi baik dalam kapasitas pribadi maupun profesional, sementara  lembaga bisa melakukan diskriminasi melalui kebijakan dan kegiatan mereka.
Bentuk lain dari stigma berkembang melalui internalisasi oleh Odha dengan persepsi negatif tentang diri mereka sendiri. Stigma dan diskriminasi yang dihubungkan dengan penyakit menimbulkan efek psikologi yang berat tentang bagaimana Odha melihat diri mereka sendiri. Hal ini bisa mendorong, dalam beberapa kasus, terjadinya depresi, kurangnya penghargaan diri, dan keputusasaan. Stigma dan diskriminasi juga menghambat upaya pencegahan dengan membuat orang takut untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi atau tidak, atau bisa pula menyebabkan mereka yang telah terinfeksi meneruskan praktek seksual yang tidak aman karena takut orang-orang akan curiga terhadap status HIV mereka. Akhirnya, Odha dilihat sebagai "masalah", bukan sebagai bagaian dari solusi untuk mengatasi epidemi ini.
Di banyak negara, hukum, kebijakan, dan peraturan memberikan kontribusi terhadap lingkungan yang mendukung untuk pencegahan HIV/AIDS, dukungan dan perawatan. Tetapi meskipun kebijakan dan hukum yang mendukung telah ada, upaya penegakan hukum yang lemah menyebabkan stigma dan diskriminasi terus berlangsung; hal ini karena sering hanya ada sedikit pertanggungjawaban terhadap tindakan-tindakan diskriminasi atau ganti rugi bagi mereka yang telah mengalami stigma dan diskriminasi. Berbagai negara dan lembaga dapat juga menciptakan dan mempersubur  stigma dan diskriminasi melalui hukum, peraturan, dan kebijakan yang terkesan mendiskrimasi Odha atau orang-orang di sekitarnya.
Dengan berfokus kepada stigma dan diskriminasi, kampanye AIDS dunia (the World AIDS Campaign) berharap bisa menyemangati orang untuk memecahkan kesunyian dan penghalang untuk pencegahan dan perawatan HIV/AIDS yang efektif. Hanya dengan melawan stigma dan diskriminasi maka perang melawan HIV/AIDS dapat dimenangkan.

Tujuan Global HIV/AIDS
Deklarasi Komitmen yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB dalam sesi khusus tentang HIV/AIDS menyerukan untuk memerangi stigma dan diskriminasi. Ini menunjukkan fakta bahwa diskriminasi merupakan pelanggaran HAM. Ini juga secara jelas menyatakan bahwa melawan stigma dan diskriminasi adalah merupakan prasyarat untuk upaya pencegahan dan perawatan yang efektif.
Kampanye AIDS Dunia terhadap stigma dan diskriminasi diharapkan akan mengadvokasi negara-negara untuk mengurangi stigma, diskriminasi dan pelanggaran HAM.

Apa Saja Issunya?
Dukungan Bagi Odha dan keluarga
Odha mengalami proses berduka dalam kehidupannya -sebuah proses yang seharusnya mendorong pada penerimaan terhadap kondisi mereka. Namun, masyarakat dan lembaga terkadang memberikan opini negatif serta memperlakukan Odha dan keluarganya sebagai warga masyarakat kelas dua. Hal ini menyebabkan melemahnya kualitas hidup Odha.
Tempat Layanan Kesehatan
Sering terjadi, lembaga yang diharapkan memberikan perawatan dan dukungan, pada kenyataannya merupakan tempat pertama orang mengalami stigma dan diskriminasi. Misalnya, memberikan mutu perawatan medis yang kurang baik, menolak memberikan pengobatan -seringkali sebagai akibat rasa takut tertular yang salah kaprah. Contoh dari stigma dan diskriminasi yang dihadapi ini adalah: alasan dan penjelasan kenapa seseorang tidak diterima di rumah sakit (tanpa didaftar berarti secara langsung telah ditolak), isolasi, pemberian label nama atau metode lain yang mengidentifikasikan seseorang sebagai HIV positif, pelanggaran kerahasiaan, perlakuan yang negatif dari staf, penggunaan kata-kata dan bahasa tubuh yang negatif oleh pekerja kesehatan, juga akses yang terbatas untuk fasilitas-fasilitas rumah sakit.
Akses untuk Perawatan
Odha seringkali tidak menerima akses yang sama seperti masyarakat umum dan kebanyakan dari mereka juga tidak mempunyai akses untuk pengobatan ARV mengingat tingginya harga obat-obatan dan kurangnya infrastruktur medis di banyak negara berkembang untuk memberikan perawatan medis yang berkualitas.
Bahkan ketika pengobatan ARV tersedia, beberapa kelompok mungkin tidak bisa mengaksesnya, misalnya karena persyaratan tentang kemampuan mereka untuk mengkonsumsi sebuah zat obat, yang mungkin terjadi pada kelompok pengguna narkoba suntikan.
Pendidikan
Hak untuk mendapat pendidikan bagi Odha dan kelompok lain yang rentan terkadang diremehkan melalui penolakan untuk memasukkan murid ke sekolah dan universitas, penolakan untuk mengakses fasilitas sekolah, perlakuan yang negatif dari teman sebaya dan lainnya di lingkungan sekolah, pengucilan di kelas, dan tidak adanya keinginan untuk mengajak siswa mengikuti pemeriksaan kesehatan, dll. Lebih jauh lagi, cara mengajar tanpa diskriminasi HIV/AIDS seringkali tidak masuk dalam kurikulum.
Sistem Peradilan
Perilaku negatif atau prasangka terhadap Odha dapat direfleksikan dengan penolakan atau akses yang lebih sedikit untuk sistem peradilan dan penilaian menyangkut isu-isu seperti kerahasiaan status HIV dan perlindungan dalam kasus perkosaan/penganiayaan. Sistem peradilan juga dapat meningkakan stigmatisasi, misalnya ketika kelompok yang rentan, misalnya pekerja seks dan pengguna narkoba, dianggap bersalah ketimbang diberi dukungan untuk mencegah penularan HIV.
Politik
Kalangan eksekutif yang tidak berbuat apa-apa di bidang HIV/AIDS dapat melegitimasi stigma dan diskriminasi, khususnya ketika sikap diskriminasi ditujukan kepada Odha dan orang-orang di sekitarnya, Odha atau kelompok marjinal lainnya diabaikan dalam proses penegakan hukum, dan mereka yang melakukan diskriminasi dibiarkan saja.
Organisasi Kepercayan
Pada beberapa kejadian, organisasi kepercayaan turut memberikan prasangka buruk terhadap Odha dan keluarganya. Ini secara khusus terlihat lewat perlakuan terhadap isu seksualitas, sess dan penggunaan narkoba, penggunaan alat kontrasepsi, pasangan seksual lebih dari satu, dan adanya kepercayaan bahwa HIV/AIDS adalah merupakan kutukan dari Tuhan.
Media
Beberapa jurnalis tidak mempunyai pengetahuan yang cukup atau informasi dasar ketika memberitakan situasi yang menyangkut kelompok rentan dan Odha. Kesalahan informasi bisa mendorong adanya komentar yang tidak pantas, penggunaan istilah yang negatif, sensasionalisasi pelanggaran kerahasiaan dan terus berlangsungnya perlakuan negatif terhadap Odha dan mereka yang terkena dampaknya, seperti juga terhadap kelompok yang rentan.
Tempat Kerja
Kemampuan untuk membiayai hidup dan untuk dipekerjakan adalah merupakan hak dasar manusia. Isu-isu yang berhubungan dengan HIV/AIDS menyangkut pengangkatan dan pemecatan, keamanan karyawan, pemecatan yang tidak adil, asuransi kesehatan, absen dari kerja untuk tujuan kesehatan, alokasi kerja, lingkungan yang aman, gaji dan tunjangan, perlakuan atasan dan rekan kerja, skining HIV untuk semua karyawan, promosi dan pelatihan. Seringkali pemikiran di balik isu-isu terkait ini adalah adanya kepercayaan bahwa tidak ada gunanya menginvestasi uang pada seseorang yang akhirnya toh akan meninggal. Tidak adanya kebijakan perekrutan adalah kondisi rumit yang seringkali terabaikan.
READ MORE - Lawanlah Stigma dan Diskriminasi Untuk Memenangi Perang Melawan HIV/AIDS!

Diskriminasi Terhadap ODHA

Positif HIV mungkin akan menjadi kiamat kecil bagi yang mengalami dan atau orang-orang terdekat mereka. Positif HIV cenderung diartikan sebagai vonis mati, seolah masa kematian sudah tinggal menghitung tahun, yang sebagian besar tidak lebih dari 10 tahun. Konselor sangat memegang peranan penting untuk memberikan motivasi bagi mereka sebelum, saat, dan setelah dilakukan tes deteksi HIV, yang biasa disebut VCT. Kelahiran dan kematian sesungguhnya hak mutlak Allah, manusia hanya bisa menghitung berdasar diagnosa-diagnosa medis tetapi keputusan kematian sendiri milik Allah. Tidak ada yg bisa memastikan apakah orang yang positif terinfeksi  HIV pasti lebih dulu meninggal daripada yang tidak terinfeksi HIV.
Positif HIV secara sekilas hampir sama dengan vonis kanker, yang secara hitungan medis mereka seolah menghitung hari. Di perawatan kanker pun ada program konselingnya (paliatif), tetapi ada yang membedakan antara keduanya. Penderita kanker dan keluarga secara psikis lebih bisa menerima keadaan sakitnya sebagai sebuah ujian karena penyebab kanker sampai saat ini belum dapat dipastikan, dan itupun lebih karena perkembangan faal dan fungsi tubuh yang tidak semestinya. Sedikit berbeda dengan kanker serviks (leher rahim) ada kemungkinan karena perilaku seks beresiko (berganti-ganti pasangan atau memiliki pasangan yang suka berganti-ganti pasangan). Sebagian besar wanita yang menderita kanker serviks ini juga tidak terlalu terbuka dengan masyarakat. Begitu pula dengan ODHA, pendampingan kepada mereka secara psikologis lebih rumit, permasalahan mereka bukan semata berkaitan dengan medis saja, tetapi psikologi dan sosial mereka.
ODHA (orang dengan HIV/AIDS) sebagian besar tertutup bahkan ada perda di beberapa daerah yang memberikan sanksi bila membuka status ODHA seseorang pada pihak lain. Mengapa mereka begitu tertutup dan merasa tidak nyaman bila status mereka diketahui banyak orang. Sebagian mereka beralasan bahwa masyarakat akan melakukan diskriminasi perlakuan kepada mereka, seolah masyarakat memberikan stigma bahwa ODHA adalah orang yang harus dijauhi. Apakah Bangsa kita yang cukup ramah dengan ajaran-ajaran agamanya tentang kasih sayang begitu mudah membenci seseorang hanya karena dia ODHA.
Pada tulisan yang pertama, bahwa tidak semua masyarakat termasuk kalangan medis yang mengetahui informasi tentang HIV/AIDS terutama tentang prosedur penanganannya bila ada kasus HIV di lingkungan mereka. Ketidaktahuan masyarakat inilah yang menyebabkan mereka bersikap hati-hati mungkin cenderung paranaoid/ketakutan. Bagaimana dengan sikap ODHA sendiri, apakah mereka cukup membantu untuk memahamkan masyarakat di sekitar mereka agar tidak “ketakutan” bersentuhan dengan mereka. Tulisan berikut ini mungkin akan sedikit melukai teman-teman ODHA, tidak ada niat menjadi bagian dari stigma dan diskriminasi itu sendiri, melainkan mencoba bicara jujur apa yang mungkin menjadi akar permasalahan adanya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.
ODHA berdasarkan cara penularannya dapat dikelompokkan berikut ini; kelompok Homoseksual (gay dan waria), kelompok perilaku seks beresiko (PSK dan konsumennya), kelompok pecandu narkoba dengan penggunaan jarum suntik (IDU), pasangan atau anak  dari orang-orang berperilaku seks beresiko (ibu-ibu dan bayi mereka), dan lain-lain (transfusi darah, jarum tato, dan kelalaian tata cara medis).
ODHA yang penularannya dari pasangannya yang tidak setia, korban tranfusi darah, dan jarum tato jauh lebih terbuka dari ODHA yang penularannya lewat perilaku seks beresiko dan pecandu narkoba. Pengalaman BNK Surabaya saat ada pembicara yang menjelaskan singkatan AIDS dengan arti Akibat Itunya Dipakai Sembarangan, maka dengan berani seorang Ibu positif HIV berteriak protes bahwa dia tertular HIV bukan karena “itunya” dipakai sembarangan melainkan dia tertular dari suaminya. Aktifis HIV/AIDS (maaf lupa nama) di Jakarta yang berani bicara di seminar-seminar besar tanpa tutup muka bahwa dia adalah ODHA, wanita baik-baik yang tertular HIV dari suaminya seorang pecandu narkoba. Apakah masyarakat yang mendengar kesaksian mereka membenci atau menjauh, justru masyarakat kita bersimpati dan berempati kepada mereka, karena sesungguhnya masyarakat kita bukan masyarakat yang tidak memiliki hati. Bagaimana dengan ODHA dari kelompok perilaku seks beresiko dan pecandu narkoba?
ODHA dari kelompok perilaku seks beresiko dan pecandu narkoba inilah yang relatif sangat tertutup, justru dari kelompok mereka inilah terbesar jumlah ODHA. Bila kita mau sedikit merendahkan hati untuk melihat lebih jernih bahwa prasangka-prasangka negatif dan atau diskriminasi masyarakat terhadap ODHA salah satunya adalah dari prasangka negatif dan ketakutan ODHA sendiri. Pengalaman dari salah satu relawan yang positif HIV dari penularan jarum suntik (narkoba) nyatanya saat dia terbuka tidak ada satupun teman yang menjauh, mungkin beberapa teman sempat kaget tapi saat kita belajar sedikit tentang HIV/AIDS, kekagetan itu mencair menjadi dukungan untuk tetap berbahagia. Sampai saat ini mungkin sudah tahun keenamnya dan tetap sehat-sehat saja, begitu juga dengan pergaulan di lingkungan sekitar yang mengenalnya sebagai ODHA tidak pernah memperoleh perlakuan diskriminasi.
Stigma dan juga diskriminasi tidak lebih dari prasangka-prasangka atau ketakutan/paranoid dari masyarakat dan ODHA sendiri. Ketakutan dari  masyarakat juga karena adanya kemungkinan kesalahan saat sosialisasi pencegahan HIV/AIDS bahwa AIDS digambarkan sebagai momok atau hantu menyeramkan yang harus dijauhi, ditangkap masyarakat bukan sekedar virusnya yang dijauhi tetapi orang dengan virusnya yang juga dijauhi. Ketakutan dari masyarakat yang lain adalah ketidakpahaman masyarakat termasuk masyarakat medis perihal penanganan pengidap HIV. Permasalahan ini solusinya pasti adalah memberikan pemahaman dengan benar. Bangsa kita adalah bangsa yang relatif mudah berempati dengan penderitaan orang lain maka bukan hal yang sulit untuk mendapatkan perhatian dan perlakuan yang diharapkan. Permasalahannya apakah teman-teman ODHA cukup berhak untuk mendapatkan perhatian tersebut, seperti kata motivator Mario Teguh bila ingin diperhatikan apakah kita sudah cukup merasa pantas untuk diperhatikan, atau bahasa lain berikan perhatian kepada orang-orang yang memang pantas untuk diperhatikan. Pertanyaannya apakah teman-teman ODHA sudah merasa melakukan sesuatu yang pantas untuk mendapatkan perhatian balik dari masyarakat.
ODHA dari kelompok perilaku seks beresiko dan pecandu narkoba sebagai jumlah yang dominan pada dasarnya memiliki masalah yang lebih kompleks selain masalah HIV itu sendiri. Tanpa status HIV pun mereka sudah kurang mendapatkan simpati dari masyarakat, siapapun tahu apa hukum agama dan nilai-nilai sosial budaya tentang kegiatan prostitusi dan atau seks bebas. Pecandu narkoba IDU pun banyak yang terlibat tindak kriminal dan seks bebas juga. Apakah masyarakat salah bila mereka dianggap aib karena perbuatan mereka dianggap telah menyalahi nilai-nila dan atau merugikan masyarakat. Apakah masyarakat salah bila tidak memberi perhatian kepada mereka karena tidak melihat itikad untuk merubah diri. Bila tidak salah mengutip doa kedamaian teman-teman AA/NA/ODHA, berikan kekuatan untuk menerima yang tidak bisa diubah, berikan kekuatan untuk merubah apa yang bisa diubah, dan berikan kebijaksanaan untuk mampu membedakan keduanya. ODHA diajarkan untuk menerima bahwa status HIV mereka tidak mungkin diubah, tetapi mereka juga diajarkan untuk mengubah banyak hal dari mereka yang bisa diubah.
Apakah mereka sudah berhenti dari ketergantungan narkoba? Apakah mereka sudah berhenti dari perilaku seks beresiko? Apakah mereka sudah merubah gaya hidup sehat mereka, seperti berhenti merokok, berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol, mulai berolahraga, dan atau menjaga asupan gizi mereka dengan benar. Apakah mereka juga sudah mengubah nilai-nilai dan orientasi hidup mereka, bila dulu mereka memiliki aturan sendiri apakah mereka sudah cukup mampu menempatkan diri dengan aturan masyarakat dominan. Pecandu narkoba sangat dikenal dengan aturan egosentris mereka, bahasa Betawinya LU LU GUE GUE, bahasa Jawanya SAK KAREPE DEWE, dan bahasa Gaulnya EGP (Emang Gue Pikirin). Bila kita menuntut masyarakat untuk menghargai hak kita, apakah kita sendiri juga sudah menghargai kewajiban kita pada masyarakat.
Mungkin terkesan sederhana soal merokok, sebagai aktifis anti narkoba saya pernah ditegur gara-gara teman yang menemani saya saat presentasi merokok saat menunggu acara dimulai. Kita mengkampanyekan anti narkoba termasuk di dalamnya adalah stop rokok, tetapi dengan terbuka memperlihatkan aktifitas merokok, sebuah ironi. Bagaimana dengan hak ODHA yang mendapatkan ARV (obat menahan perkembangan virus/HIV) secara subsidi dari Negara dan swasta (NGO), dilain pihak berapa rupiah yang mereka ODHA keluarkan secara pribadi untuk mengkonsumsi rokok tiap hari.  Bagaimana logikanya masyarakat (Negara) memberikan subsidi ARV untuk mereka bertahan hidup lebih lama tetapi mereka sendiri menggerogoti tubuh mereka dengan nikotin.
Bagaimanapun bila kita ingin mendapatkan perhatian dan hak kita dipenuhi masyarakat maka seyogyanya kita mengetahui bagaimana menempatkan diri pada masyarakat tersebut. Kelompok gay, waria, PSK, dan juga pecandu sedikit banyak memiliki nilai-nilai yang berbeda dan bertentangan dengan masyarakat dominan. Masyarakat sendiri pun sebenarnya sudah mulai permisif (pemaaf) dengan nilai-nilai yang mereka yakini bila secara individu-individu mereka mampu mengambil hati masyarakat di sekitar mereka, misal masyarakat sudah bisa menerima Dorce dari lelaki menjadi perempuan dan Udje dari pecandu menjadi Ustadz. Bagaimana dengan teman-teman ODHA cukupkah sudah mengambil hati masyarakat.
Gay, waria, PSK, dan juga pecandu di dalam perjalanan hidupnya memang lebih rumit permasalahannya daripada masyarakat umum. Pilihan hidup mereka yang menentang dominasi nilai-nilai yang disepakati masyarakat menjadikan mereka untuk mengambil sikap yang cenderung sensitif dan eksklusif. Secara tanpa sadar mereka membuat batasan sendiri untuk orang di luar mereka masuk. Sebagian dari mereka memilih bersikap menyembunyikan pilihan hidup mereka, untuk melindungi pilihan hidup ini mereka harus terus berbohong dan berbohong agar masyarakat tidak mengetahui siapa mereka di sisi lain. Sebuah resiko dari berbohong adalah sekali berbohong akan terus berbohong, kebohongan bila akan terungkap akan ditutupi dengan kebohongan lain, dan tidak ada kebohongan yang terus tersembunyi. Bila kita selalu berbohong maka bersiaplah untuk kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang kita bohongi.
Mengapa seseorang harus berbohong? Mengapa seseorang harus tertutup? Seseorang berbohong sebagian besar menutupi atau menyembunyikan sesuatu yang mungkin diangap  buruk atau bermasalah. Seseorang menjadi tertutup karena merasa orang lain akan menyakiti dirinya.  Apakah kita suka dibohongi? Apakah kita memang selamanya ingin hidup sendiri? Semua adalah pilihan, apakah perjuangan melawan Stigma dan Diskriminasi bisa dilakukan dengan memakai topeng?
Perjuangan melawan stigma dan diskriminasi pada ODHA, apakah mungkin bisa diperjuangkan tanpa menampilkan ODHA sendiri sebagai ujung tombaknya. Peperangan selalu butuh pahlawan, apakah ada ODHA dan atau OHIDHA yang bersedia menjadi pahlawan untuk teman-teman ODHA yang lain. Sudah saatnya ODHA atau OHIDHA yang harus terbuka, terbuka bukan berarti blak-blakan menceritakan masa lalu, terbuka bukan berarti harus testimoni, terbuka bukan berarti membuka aib. Terbuka adalah siap membuktikan bahwa ODHA bukan hantu menyeramkan yang ditakuti masyarakat tetapi manusia baru yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan masyarakat lain, untuk menjalani hidup lebih baik dan memberi manfaat bagi sesama.
READ MORE - Diskriminasi Terhadap ODHA

16 November 2010

Tens 21

• TENS merupakan sebuah teknik penghilang nyeri (analgesik) yang sederhana dan non-invasive, yang telah digunakan secara luas di dunia medis oleh ahli fisioterapi, perawat, atau bidan. (Johnson, 1997; Pope, Mockett and Wright,1995; Reeve, Menon and Corabian, 1996; Robertson and Spurritt, 1998)

• TENS biasanya juga digunakan untuk meringankan berbagai jenis nyeri, seperti nyeri paska persalinan, nyeri paska operasi, nyeri punggung, nyeri akibat artritis, nyeri neuropatik, nyeri menstruasi, nyeri kepala, dan migrain. (Hansson, 1999).

• TENS merupakan teknik penghilang nyeri yang non-invasive ,tidak menyebabkan adiksi, dan hampir tanpa efek samping yang bermakna.



Latar belakang terapi TENS


Nyeri (pain)

Nyeri merupakan rasa atau sensasi yang paling sering dirasakan oleh setiap orang di manapun. Definisi nyeri adalah pengalaman sensorik (fisik) dan emosional (psikologis) yang tidak menyenangkan yang disertai oleh kerusakan jaringan secara potensial dan aktual (The International Association for the Study of Pain).

René Descartes sudah mengemukakan teori mengenai nyeri (specificity theory) sejak abad ke-17, tetapi teori tersebut belum menggambarkan nyeri secara lengkap. Pada perkembangan selanjutnya teori nyeri lebih disempurnakan oleh Melzack & Wall melalui teorinya yang disebut gate control theory, pada tahun 1965. Teori ini memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai definisi dan mekanisme nyeri. Sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran, gate control theory disempurnakan dengan teori neuromodulasi dan neuroanatomi. Gate control theory inilah yang saat ini manjadi dasar teknologi terapi TENS (Transcutaneous Elaectrical Nerve Stimulator)

Penggunaan alat terapi TENS saat ini pada umumnya tidak praktis, karena diperlukan keterampilan dan pengetahuan khusus untuk menyesuaikan program yang ada pada alat terapi TENS dengan keluhan dan jenis terapi yang diinginkan. Akibatnya alat terapi TENS lebih banyak digunakan di klinik rehabilitasi medik dan fisioterapi.

Kemajuan teknologi di dunia medis dan kesehatan memberikan banyak kemudahan, baik bagi praktisi medis maupun bagi masyarakat luas, salah satunya perkembangan pada teknologi TENS. Teknologi TENS terbaru yang berhasil dikembangkan saat ini menghadirkan alat terapi Tens 21 yang lebih praktis, lengkap, dan modern, sehingga lebih mudah digunakan, baik bagi para praktisi medis, maupun masyarakat umum. Hal ini memungkinkan penggunaan alat terapi TENS bukan hanya di klinik rehabilitasi medik dan fisioterapi, tetapi bisa juga di klinik – klinik lain, bahkan sebagai alat terapi rumah tangga.
READ MORE - Tens 21

Fisioterapi

Physical theraphy (atau dalam bahasa Indonesia Fisioterapis) adalah adalah suatu profesi pelayanan kesehatan yang menyediakan jasa ke indivudu atau masyarakat dalam mengembangkan, memelihara, dan memaksimalkan kembali gerak dan fungsinya dalam kehidupan. Ini termasuk menyediakan jasa dalam keadaandimana gerak dan fungsinya mengalami gangguan contohnya penuaan luka-luka, pemyakit, atau factor lingkungan. Fungsi gerak adalah elemen pusat dalam kesehatan.

Fisioterapis mempunyai kaitan dalam mengidentifikasi dan memaksimalkan kualitas hidup dan potensial gerak dengan metode promosi, pencegahan, treatment/intervention, habilitation dan rehabilitasi. Ini meliputi fisik, psikologi, emosional, dan kesejahteraan social. Termasuk interaksi antara fisioterapis dengan pasien, para profesional kesehatan, keluarga-keluarga, para pemerhati, dan masyarakat dalam proses dimana potensial gerak dievaluasi dan secara objaktif disetujui, menggunakan pengetahuan dan keterampilan unik untuk terapi fisik. Terapi fisik atau proses fisioterapi dilakukan oleh fisioterapis atau asisten fisioterapi yang berada di bawah perintahnya.

Fisioterapis mempunyai banyak spesialisasi yang mencakup cardiopulmonary, geriatrik, mengenai ilmu penyakit syaraf, orthopaedic dan ilmu kesehatan anak-anak untuk menyebut sebagian dari area yang semakin umum. Fisioterapis menjalankan profesi dalam banyak bidang, seperti klinik rawat jalan atau kantor, fasilitas rehabilitasi orang yang dirawat di r.s., fasilitas perawatan yang diperluas, kunjungan ke rumah, pendidikan dan pusat penelitiann, sekolah, rumah perawatan, tempat kerja industri atau profesi yang berhubungan dengan lingkungan, pusat kebugaran dan fasilitas pelatihan olahraga.
Kualifikasi pendidikan sangat diintesifkan oleh Negara. Jenjang pendidikan bagi beberapa Negara hanya sedikit mendirikan pendidikan formal sedangkan yang lain mewajibkan program master dan doktoral.

SEJARAH

Dokter seperti hipocrates dan hector dipercaya sebagai yang pertama melakukan fisioterapi yang primitive, menyarankan pemijatan (hipocrates) dan hydroterapi (hector) pada masyarakat zaman 460 sebelum masehi. Dokumentasi paling awal mengenai praktek fisioterapi yang professional, bagaimanapun, kembali ke tahun 1894 ketika empat perawat di inggris membentuk Chartered Society of Physiotherapy. Negara-negara lain segera mengikuti dan memulai program pelatihan formal, seperti Sekolah Physiotherapy di Universitas Otago di Selandia Baru di tahun 1913, dan di Amerika tahun 1914 di Reed College, Portland, Oregon.

Penelitian mempercepat gerakan fisioterapi. Penelitian pertama fisioterapis di publikasikan pada maret 1921 dalam PT review. Pada tahun yang sama Mary McMilan membentuk Physical Therapy Association (sekarang disebut American Physical Therapy Association (APTA). Di tahun 1924, Georgia Warm Springs Foundation mempromosikan fisioterapi sebagai perawatan terhadap penyakit polio.

Perawatan sampai tahun 1940 terutama semata terdiri dari latihan, pijatan, dan traksi. Prosedur manipulatif pada tulang belakang dan sendi ekstrimitas mulai untuk dipraktekkan, terutama di negara-negara Persemakmuran Inggris, pada awal 1950-an. Pada dekade berikutnya, fisioterapis memulai bergerak ke praktik diluar rumah sakit, ke pasien rawat jalan klinik bedah tulang, sekolah negeri, universitas, pengaturan berkenaan dengan geriatrik ( fasilitas keterampilan merawat), pusat rehabilitasi, rumah sakit, dan pusat medis.

Spesialisasi untuk fisioterapi di U.S. terjadi tahun 1974, pada bidang Orthopedic dari APTA untuk fisioterapis yang mengkhususkan spesialisasi di Orthopedic. Di tahun yang sama, International Federation of Orthopaedic Manipulative Therapy dibentuk, yang telah memainkan suatu peran penting di dalam mempercepat therapy manual yang di seluruh dunia yang pernah ada.
Sampai saat ini fisioterapi terbagi-bagi ke beberapa bidang spesialisasi karena ilmunya yang luas spesialisasi itu meliputi cardiopulmonary, geriatric, neurological, ortopedik, pediatrik, dan integumentary.
READ MORE - Fisioterapi

Template by : dhitaprianthara Copyright@2012