Lawanlah Stigma dan Diskriminasi Untuk Memenangi Perang Melawan HIV/AIDS! | Dhita Prianthara Blog Lawanlah Stigma dan Diskriminasi Untuk Memenangi Perang Melawan HIV/AIDS! | Dhita Prianthara Blog| software | games | download | PS1 | Free

17 November 2010

Lawanlah Stigma dan Diskriminasi Untuk Memenangi Perang Melawan HIV/AIDS!

Stigma dan diskriminasi, dibawah slogan "Live and Let Live" (Hidup dan Tetap Tegar), telah ditetapkan menjadi tema Kampanye AIDS Dunia di tahun 2002-2003.
Kampanye AIDS Dunia selalu memberikan isu khusus tentang upaya pencegahan dan perawatan pada waktu-waktu tertentu; serta memberikan arahan dalam mengadakan berbagai acara pada Hari AIDS se-Dunia tanggal 1 Desember setiap tahun.

Kenapa Stigma dan Diskriminasi?
Stigma sering kali menyebabkan terjadinya diskriminasi dan -pada gilirannya- akan mendorong munculnya pelanggaran HAM bagi Odha dan keluarganya. Stigma dan diskriminasi memperparah epidemi HIV/AIDS. Mereka menghambat usaha pencegahan dan perawatan dengan memelihara kebisuan dan penyangkalan tentang HIV/AIDS seperti juga mendorong keterpinggiran Odha dan mereka yang rentan terhadap infeksi HIV. Mengingat HIV/AIDS sering diasosiasikan dengan seks, penggunaan narkoba dan kematian, banyak orang yang tidak peduli, tidak menerima, dan takut terhadap penyakit ini di hampir seluruh lapisan masyarakat.
Stigma berhubungan dengan kekuasaan dan dominasi di masyarakat. Pada puncaknya, stigma akan menciptakan, dan ini didukung oleh, ketidaksetaraan sosial. Stigma berurat akar di dalam struktur masyarakat, dan juga dalam norma-norma dan nilai-nilai yang mengatur kehidupan sehari-hari. Ini menyebabkan beberapa kelompok menjadi kurang dihargai dan merasa malu, sedangkan kelompok lainnya merasa superior.
Diskriminasi terjadi ketika pandangan-pandangan negatif mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan seseorang secara tidak adil yang didasarkan pada prasangka mereka akan status HIV seseorang. Contoh-contoh diskriminasi meliputi para staf rumah sakit atau penjara yang menolak memberikan pelayanan kesehatan kepada Odha; atasan yang memberhentikan pegawainya berdasarkan status atau prasangka akan status HIV mereka; atau keluarga/masyarakat yang menolak mereka yang hidup, atau dipercayai hidup, dengan HIV/AIDS. Tindakan diskriminasi semacam itu adalah sebuah bentuk pelanggaran hak asasi manusia.
Stigma dan diskriminasi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Terjadi di tengah keluarga, masyarakat, sekolah, tempat peribadatan, tempat kerja, juga tempat layanan hukum dan kesehatan. Orang bisa melakukan diskriminasi baik dalam kapasitas pribadi maupun profesional, sementara  lembaga bisa melakukan diskriminasi melalui kebijakan dan kegiatan mereka.
Bentuk lain dari stigma berkembang melalui internalisasi oleh Odha dengan persepsi negatif tentang diri mereka sendiri. Stigma dan diskriminasi yang dihubungkan dengan penyakit menimbulkan efek psikologi yang berat tentang bagaimana Odha melihat diri mereka sendiri. Hal ini bisa mendorong, dalam beberapa kasus, terjadinya depresi, kurangnya penghargaan diri, dan keputusasaan. Stigma dan diskriminasi juga menghambat upaya pencegahan dengan membuat orang takut untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi atau tidak, atau bisa pula menyebabkan mereka yang telah terinfeksi meneruskan praktek seksual yang tidak aman karena takut orang-orang akan curiga terhadap status HIV mereka. Akhirnya, Odha dilihat sebagai "masalah", bukan sebagai bagaian dari solusi untuk mengatasi epidemi ini.
Di banyak negara, hukum, kebijakan, dan peraturan memberikan kontribusi terhadap lingkungan yang mendukung untuk pencegahan HIV/AIDS, dukungan dan perawatan. Tetapi meskipun kebijakan dan hukum yang mendukung telah ada, upaya penegakan hukum yang lemah menyebabkan stigma dan diskriminasi terus berlangsung; hal ini karena sering hanya ada sedikit pertanggungjawaban terhadap tindakan-tindakan diskriminasi atau ganti rugi bagi mereka yang telah mengalami stigma dan diskriminasi. Berbagai negara dan lembaga dapat juga menciptakan dan mempersubur  stigma dan diskriminasi melalui hukum, peraturan, dan kebijakan yang terkesan mendiskrimasi Odha atau orang-orang di sekitarnya.
Dengan berfokus kepada stigma dan diskriminasi, kampanye AIDS dunia (the World AIDS Campaign) berharap bisa menyemangati orang untuk memecahkan kesunyian dan penghalang untuk pencegahan dan perawatan HIV/AIDS yang efektif. Hanya dengan melawan stigma dan diskriminasi maka perang melawan HIV/AIDS dapat dimenangkan.

Tujuan Global HIV/AIDS
Deklarasi Komitmen yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB dalam sesi khusus tentang HIV/AIDS menyerukan untuk memerangi stigma dan diskriminasi. Ini menunjukkan fakta bahwa diskriminasi merupakan pelanggaran HAM. Ini juga secara jelas menyatakan bahwa melawan stigma dan diskriminasi adalah merupakan prasyarat untuk upaya pencegahan dan perawatan yang efektif.
Kampanye AIDS Dunia terhadap stigma dan diskriminasi diharapkan akan mengadvokasi negara-negara untuk mengurangi stigma, diskriminasi dan pelanggaran HAM.

Apa Saja Issunya?
Dukungan Bagi Odha dan keluarga
Odha mengalami proses berduka dalam kehidupannya -sebuah proses yang seharusnya mendorong pada penerimaan terhadap kondisi mereka. Namun, masyarakat dan lembaga terkadang memberikan opini negatif serta memperlakukan Odha dan keluarganya sebagai warga masyarakat kelas dua. Hal ini menyebabkan melemahnya kualitas hidup Odha.
Tempat Layanan Kesehatan
Sering terjadi, lembaga yang diharapkan memberikan perawatan dan dukungan, pada kenyataannya merupakan tempat pertama orang mengalami stigma dan diskriminasi. Misalnya, memberikan mutu perawatan medis yang kurang baik, menolak memberikan pengobatan -seringkali sebagai akibat rasa takut tertular yang salah kaprah. Contoh dari stigma dan diskriminasi yang dihadapi ini adalah: alasan dan penjelasan kenapa seseorang tidak diterima di rumah sakit (tanpa didaftar berarti secara langsung telah ditolak), isolasi, pemberian label nama atau metode lain yang mengidentifikasikan seseorang sebagai HIV positif, pelanggaran kerahasiaan, perlakuan yang negatif dari staf, penggunaan kata-kata dan bahasa tubuh yang negatif oleh pekerja kesehatan, juga akses yang terbatas untuk fasilitas-fasilitas rumah sakit.
Akses untuk Perawatan
Odha seringkali tidak menerima akses yang sama seperti masyarakat umum dan kebanyakan dari mereka juga tidak mempunyai akses untuk pengobatan ARV mengingat tingginya harga obat-obatan dan kurangnya infrastruktur medis di banyak negara berkembang untuk memberikan perawatan medis yang berkualitas.
Bahkan ketika pengobatan ARV tersedia, beberapa kelompok mungkin tidak bisa mengaksesnya, misalnya karena persyaratan tentang kemampuan mereka untuk mengkonsumsi sebuah zat obat, yang mungkin terjadi pada kelompok pengguna narkoba suntikan.
Pendidikan
Hak untuk mendapat pendidikan bagi Odha dan kelompok lain yang rentan terkadang diremehkan melalui penolakan untuk memasukkan murid ke sekolah dan universitas, penolakan untuk mengakses fasilitas sekolah, perlakuan yang negatif dari teman sebaya dan lainnya di lingkungan sekolah, pengucilan di kelas, dan tidak adanya keinginan untuk mengajak siswa mengikuti pemeriksaan kesehatan, dll. Lebih jauh lagi, cara mengajar tanpa diskriminasi HIV/AIDS seringkali tidak masuk dalam kurikulum.
Sistem Peradilan
Perilaku negatif atau prasangka terhadap Odha dapat direfleksikan dengan penolakan atau akses yang lebih sedikit untuk sistem peradilan dan penilaian menyangkut isu-isu seperti kerahasiaan status HIV dan perlindungan dalam kasus perkosaan/penganiayaan. Sistem peradilan juga dapat meningkakan stigmatisasi, misalnya ketika kelompok yang rentan, misalnya pekerja seks dan pengguna narkoba, dianggap bersalah ketimbang diberi dukungan untuk mencegah penularan HIV.
Politik
Kalangan eksekutif yang tidak berbuat apa-apa di bidang HIV/AIDS dapat melegitimasi stigma dan diskriminasi, khususnya ketika sikap diskriminasi ditujukan kepada Odha dan orang-orang di sekitarnya, Odha atau kelompok marjinal lainnya diabaikan dalam proses penegakan hukum, dan mereka yang melakukan diskriminasi dibiarkan saja.
Organisasi Kepercayan
Pada beberapa kejadian, organisasi kepercayaan turut memberikan prasangka buruk terhadap Odha dan keluarganya. Ini secara khusus terlihat lewat perlakuan terhadap isu seksualitas, sess dan penggunaan narkoba, penggunaan alat kontrasepsi, pasangan seksual lebih dari satu, dan adanya kepercayaan bahwa HIV/AIDS adalah merupakan kutukan dari Tuhan.
Media
Beberapa jurnalis tidak mempunyai pengetahuan yang cukup atau informasi dasar ketika memberitakan situasi yang menyangkut kelompok rentan dan Odha. Kesalahan informasi bisa mendorong adanya komentar yang tidak pantas, penggunaan istilah yang negatif, sensasionalisasi pelanggaran kerahasiaan dan terus berlangsungnya perlakuan negatif terhadap Odha dan mereka yang terkena dampaknya, seperti juga terhadap kelompok yang rentan.
Tempat Kerja
Kemampuan untuk membiayai hidup dan untuk dipekerjakan adalah merupakan hak dasar manusia. Isu-isu yang berhubungan dengan HIV/AIDS menyangkut pengangkatan dan pemecatan, keamanan karyawan, pemecatan yang tidak adil, asuransi kesehatan, absen dari kerja untuk tujuan kesehatan, alokasi kerja, lingkungan yang aman, gaji dan tunjangan, perlakuan atasan dan rekan kerja, skining HIV untuk semua karyawan, promosi dan pelatihan. Seringkali pemikiran di balik isu-isu terkait ini adalah adanya kepercayaan bahwa tidak ada gunanya menginvestasi uang pada seseorang yang akhirnya toh akan meninggal. Tidak adanya kebijakan perekrutan adalah kondisi rumit yang seringkali terabaikan.

Artikel Terkait:

0 comments:

Post a Comment

Silahkan beri komentar sobat di bawah ini!
Komentar sobat akan sangat bermanfaat bagi kemajuan blog ini! :D Jangan lupa follow blog ini juga ;)
Mohon untuk tidak menggunakan nama ANONIM!
No SPAM !!!

Template by : dhitaprianthara Copyright@2012