HAKIKAT ILMU, ONTOLOGY, EPISTEMOLOGY DAN AKSIOLOGY | Dhita Prianthara Blog HAKIKAT ILMU, ONTOLOGY, EPISTEMOLOGY DAN AKSIOLOGY | Dhita Prianthara Blog| software | games | download | PS1 | Free

12 May 2016

HAKIKAT ILMU, ONTOLOGY, EPISTEMOLOGY DAN AKSIOLOGY



Hakikat Ilmu
Ilmu tidak bisa terlepas dari pengetahuan karena keduanya berhubungan sangat erat.  Ilmu yang di dalam bahasa inggris disebut sebagai science, merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah. Ilmu bukan hanya sekedar kumpulan dari fakta-fakta walaupun didalamnya juga terdapat berbagai fakta, namun di dalam ilmu juga terdapat teori, hukum, prinsip dan lain sebagainya (Jujun S., 2005). Pengetahuan merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu. Pengetahuan merupakan sumber jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul pada kehidupan. Pengetahuan dapat dimiliki berkat adanya pengalaman atau melalui interaksi antar manusia maupun dengan lingkungannya.
            Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan akan tetapi tidak semua pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu. Pengertian ilmu dan pengetahuan nampak lebih jelas menurut Rinjin (1997) dimana ilmu merupakan keseluruhan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan logis, bukanlah sekedar kumpulan fakta tetapi pengetahuan yang mempersyaratkan objek, metoda, teori, hukum, atau prinsip. Menurut The Liang Gie (1991) menyatakan bahwa ilmu dapat dipandang sebagai proses, prosedur dan produk. Sebagai proses ilmu terwujud dalam aktivitas penelitian. Sebagai prosedur ilmu tidak lain adalah metoda ilmiah. Dan sebagai produk ilmu merupakan pengetahuan yang tersusun secara sistematis. Pandangan tentang ilmu tersebut merupakan keastuan yang logis dan harus ada secara berurutan dimana ilmu harus diusahakan dengan aktivitas tertentu yaitu penelitian ilmiah. Aktivitas tersebut harus dilaksanakan dengan metoda ilmiah yang diharapkan menghasilkann pengetahuan ilmiah.
            Filsafat yang merupakan salah satu kajian ilmu sekarang berkembang dan melahirkan tiga dimensi utama sekaligus sebagai obyek kajiannya. Ketiga dimensi utama filsafat ilmu ini adalah ontologi (apa yang menjadi obyek suatu ilmu), epistemologi (cara mendapatkan ilmu), dan aksiologi (untuk apa ilmu tersebut).

Ontologi
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud (being) dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan (Suparlan Suhartono, 2007).
Ontologi dapat pula diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. Obyek ilmu atau keilmuan itu adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau pancaindera. Dengan demikian, obyek ilmu adalah pengalaman inderawi. Dengan kata lain, ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika semata. Pengertian ini didukung pula oleh pernyataan Runes bahwa “ontology is the theory of being qua being”, artinya ontologi adalah teori tentang wujud.
Jujun Suriasumantri (2005), bahwa ontologi membahas apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaahan ilmu. Berdasarkan obyek yang telah ditelaahnya, ilmu dapat disebut sebagai pengetahuan empiris, karena obyeknya adalah sesuatu yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Berlainan dengan agama dan bentuk-bentuk pengetahuan lain, ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian-kejadian yang bersifat empiris, selalu berorientasi terhadap dunia empiris.
Ontologi sebagai cabang filsafat yang membicarakan tentang hakikat benda bertugas untuk memberikan jawaban atas pertanyaan “apa sebenarnya realitas benda itu? apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak?”. Dari teori hakikat (ontologi) ini kemudian muncullah beberapa aliran dalam persoalan keberadaan, yaitu:
1. Keberadaan dipandang dari segi jumlah (kuantitas)
a.       Monisme, aliran yang menyatakan bahwa hanya satu keadaan fundamental. Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi, Tuhan atau substansi lainnya yang tidak dapat diketahui.
b.      Dualisme (serba dua), aliran yang menganggap adanya dua substansi yang masing-masing berdiri sendiri. Misal dunia indera (dunia bayang-bayang) dan dunia intelek (dunia ide).
c.       Pluralisme (serba banyak), aliran yang tidak mengakui adanya sesuatu substansi atau dua substansi melainkan banyak substansi, misalnya hakikat kenyataan terdiri dari empat unsur yaitu udara, api, air dan tanah (empedogles).
2. Keberadaan dipandang dari segi sifat, menimbulkan beberapa aliran, yaitu:
a.       Spiritualisme, mengandung arti ajaran yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh yaitu roh yang mengisi dan mendasari seluruh alam.
b.      Materialisme, adalah pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada hal yang nyata kecuali materi.
3. Keberadaan dipandang dari segi proses, kejadian, atau perubahan
a.       Mekanisme (serba mesin), menyatakan bahwa semua gejala atau peristiwa dapat dijelaskan berdasarkan asas mekanik (mesin).
b.      Teleologi (serba tujuan), berpendirian bahwa yang berlaku dalam kejadian alam bukanlah kaidah sebab akibat tetapi sejak semula memang ada sesuatu kemauan atau kekuatan yang mengarahkan alam ke suatu tujuan.
c.       Vitalisme, memandang bahwa kehidupan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan secara fisika, kimia, karena hakikatnya berbeda dengan yang tak hidup.
d.      Organisisme (lawannya mekanisme dan vitalisme). Menurut organisisme, hidup adalah suatu struktur yang dinamik, suatu kebulatan yang memiliki bagian-bagian yang heterogen, akan tetapi yang utama adalah adanya sistem yang teratur.

Epistemologi
Epistomologi berasal dari bahasa Yunani ”episteme” dan ”logos”. ”Episteme” berarti pengetahuan (knowledge),”logos” berarti teori. Dengan demikian epistomologi secara etimologis berarti teori pengetahuan. (Rizal, 2001). Epistomologi mengkaji mengenai apa sesungguhnya ilmu, dari mana sumber ilmu, serta bagaimana proses terjadinya. Dengan menyederhanakan batasan tersebut, Brameld (Noor Syam, 1984) mendefinisikan epistomologi sebagai “it is epistemologi that gives the teacher the assurance that he is conveying the truth to his student”. Definisi tersebut dapat diterjemahkan sebagai “epistomologi memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran kepada murid-muridnya”.
Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan syahnya (validitas) pengetahuan. Dalam metafisika/ontologi, pertanyaan pokoknya adalah “apakah ada itu?”, sedangkan dalam epistemologi pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui?”. Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah 1) Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?; 2) Dari mana pengtahuan itu dapat diperoleh?; 3) Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinilai?.
Menurut IAIN (2011), epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengendalian-pengendalian dan dasar-dasarnya serta pengertian mengenai pengetahuan yang dimiliki mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuatan pengenalannya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya. Mereka mengandaikan begitu saja bahwa pengetahuan mengenai kodrat itu mungkin, meskipun beberapa di antara mereka menyarankan bahwa pengetahuan mengenai struktur kenyataan dapat lebih dimunculkan dari sumber-sumber tertentu ketimbang sumber-sumber lainya.
Berbagai tindakan untuk memperoleh pengetahuan secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu secara nonilmiah, yang mencakup : a) akal sehat, b) prasangka, c) intuisi, d) penemuan kebetulan dan cobacoba, dan e) pendapat otoritas dan pikiran kritis, serta tindakan secara ilmiah. Usaha yang dilakukan secara nonilmiah menghasilkan pengetahuan (knowledge), dan bukan science. Sedangkan melalui usaha yang bersifat ilmiah menghasilkan pengetahuan ilmiah atau ilmu.

Aksiologi
Menurut IAIN (2011), aksiologi merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia, karena dengan ilmu semua keperluan dan kebutuhan manusia bisa terpenuhi secara lebih cepat dan lebih mudah. Dengan kemajuan ilmu juga manusia bisa merasakan kemudahan lainnya seperti transfortasi, pemukiman, pendidikan, komunikasi, dan lain sebagainya. Seorang ilmuwan akan dihadapkan pada kepentingan-kepentingan pribadi ataukah kepentingan masyarakat akan membawa pada persoalan etika keilmuan serta masalah bebas nilai. Pekembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan telah menciptakan berbagai bentuk kemudahan bagi manusia, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologinya merupakan berkah dan penyelamat bagi manusia, terbebas dari kutuk yang membawa malapetaka dan kesengsaraan? Memang dengan jalan mempelajari teknologi seperti pembuatan bom atom, manusia bisa memanfaatkan wujudnya sebagai sumber energi. Di bidang etika, tanggugung jawab seorang ilmuan, bukan lagi memberi informasi namun harus memberi contoh. Dia harus bersifat objektif, terbuka, menerima, keritik menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar dan kalau berani mengakui kesalahan.
Makna aksiologi ilmu bisa diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Seperti diketahui setiap pengetahuan, termasuk pengetahuan ilmiah, mempunyai tiga dasar, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Aksiologi ilmu ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu, yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan.
Dasar aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu telah memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia dalam mengendalikan kekuatan-kekuatan alam. Dangan mempelajari atom kita dapat memanfaatkan untuk sumber energi bagi keselamatan manusa, tetapi hal ini juga dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia. Penciptaan bom atom akan meningkatkan kualitas persenjataan dalam perang, sehingga jika senjata itu dipergunakan akan mengancam keselamatan umat manusia.
Aksiologi adalah filsafat yang secara khusus mengkaji cita-cita, sistem nilai atau nilai-nilai mutlak (tertinggi), yaitu nilai-nilai yang dianggap sebagai “tujuan utama”. Nilai-nilai ini dalam filsafat adalah al-haq (kebenaran), kebaikan dan keindahan. Oleh karena itu pembahasan tentang filsafat nilai ini dibagi menjadi tiga bagian:
·         Logika (membahas nilai kebenaran yang membantu kita pada komitmen kebenaran dan menjauhi kesalahan)
·         Etika/filsafat moral (membahas nilai kebaikan, kewajiban dan tanggung jawab moral)
·         Ilmu estetika (membahas nilai keindahan)



DAFTAR PUSTAKA

IAIN. 2011. Dasar-Dasar Ilmu (Ontologi, Epistemologi, Aksiologi). Fakultas Syariah IAIN, Sumatera Utara.
Jujun, S. Suriasumantri. (2005) Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Sinar Harapan.
Noor Syam, Mohammad. (1984). Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan. Surabaya: Pancasila Usaha Nasional
Rinjin, Ketut. (1997) Pengantar Filsafat Ilmu dan Ilmu Sosial Dasar. Bandung : CV Kayumas.
Rizal Mustansyir dan Misnal Munir. (2001). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Suparlan, Suhartono. (2007). Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Kelompok Penerbit Ar-Ruzz Media.
The Liang Gie. (1991) Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Liberty.


Artikel Terkait:

0 comments:

Post a Comment

Silahkan beri komentar sobat di bawah ini!
Komentar sobat akan sangat bermanfaat bagi kemajuan blog ini! :D Jangan lupa follow blog ini juga ;)
Mohon untuk tidak menggunakan nama ANONIM!
No SPAM !!!

Template by : dhitaprianthara Copyright@2012